8 FAKTOR RISIKO STROKE

Penulis: dr Yuda Turana, SpS

Stroke adalah penyakit neurologi yang paling mengancam kehidupan, dan penyebab kematian nomor 3 di Amerika Serikat, setelah penyakit jantung dan kanker. Stroke lebih sering menyebabkan kelumpuhan / kecacatan daripada kematian. Pencegahan adalah strategi yang efektif untuk mengurangi kerusakan yang terjadi pada penyakit stroke.

Kondisi penyempitan dan ketidaknormalan lainnya pada pembuluh darah yang menuju otak adalah faktor terpenting dari terjadinya stroke, baik itu yang bersifat iskemik ataupun hemoragik. Untuk itu , pemeriksaan pembuluh darah yang menuju otak dan yang ada di dalam otak adalah suatu keharusan sebagai upaya pencegahan stroke berulang.

Hipertensi adalah faktor resiko yang penting lainnya untuk stroke, terutama stroke sumbatan. Tidak ada bukti bahwa wanita lebih tahan terhadap hipertensi daripada laki-laki. Insiden stroke sebagian besar diakibatkan oleh hipertensi, sehingga kejadian stroke dalam populasi dapat dihilangkan jika hipertensi diterapi secara efektif . Peningkatan tekanan darah yang ringan atau sedang (borderline) sering dikaitkan dengan kelainan kardiovaskuler, sedangkan pada peningkatan tekanan darah yang tinggi, stroke lebih sering terjadi.

Kelainan jantung merupakan kelainan atau disfungsi organ yang mempredisposisikan timbulnya stroke. Meskipun hipertensi merupakan faktor resiko untuk semua jenis stroke, namun pada tekanan darah berapapun, gangguan fungsi jantung akan meningkatkan resiko stroke secara signifikan. Peranan gangguan jantung terhadap kejadian stroke meningkat seiring pertambahan usia .

Selain itu, total serum kolesterol , LDL maupun trigliserida yang tinggi akan meningkatkan resiko stroke iskemik ( terutama bila disertai dengan hipertensi ), karena terjadinya aterosklerosis pada arteri karotis.

Diabetes meningkatkan kemungkinan aterosklerosis pada arteri koronaria, femoralis dan serebral, sehingga meningkatkan pula kemungkinan stroke sampai dua kali lipat bila dibandingkan dengan pasien tanpa diabetes.

Pasien obesitas/ kegemukan memiliki tekanan darah, kadar glukosa darah dan serum lipid yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan pasien tidak gemuk. Hal ini meningkatkan resiko terjadinya stroke, terutama pada kelompok usia 35-64 tahun pada pria dan usia 65-94 tahun pada wanita. Namun, pada kelompok yang lain pun, obesitas mempengaruhi keadaan kesehatan, melalui peningkatan tekanan darah, gangguan toleransi glukosa dan lain-lain.

Pola obesitas juga memegang peranan penting, dimana obesitas sentral dan penimbunan lemak pada daerah abdominal, sangat berkaitan dengan kelainan aterosklerosis.
Meskipun riwayat stroke dalam keluarga penting pada peningkatan resiko stroke, namun pembuktian dengan studi epidemiologi masih kurang.

Merokok merupakan faktor resiko tinggi terjadinya serangan jantung dan kematian mendadak, baik akibat stroke sumbatan maupun perdarahan.
Pada meta analisis dari 32 studi terpisah, termasuk studi-studi di atas, perokok memegang peranan terjadi insiden stroke, untuk kedua jenis kelamin dan semua golongan usia dan berhubungan dengan peningkatan resiko 50% secara keseluruhan, bila dibandingkan dengan bukan perokok. Resiko terjadinya stroke, dan infark otak pada khususnya, meningkat seiring dengan peningkatan jumlah rokok yang dikonsumsi, baik pada laki-laki ataupun wanita.

Resiko stroke meningkat pada penggunaan kontrasepsi oral, terutama pada wanita berumur lebih dari 35 tahun, dan yang memiliki faktor resiko penyakit kardiovaskuler, seperti hipertensi dan merokok. Resiko relatif stroke pada pemakai ataupun bekas pengguna kontrasepsi oral meningkat 5 kali lipat, terutama pada kelompok perokok dan diatas usia 35 tahun.

Pecandu alkohol berat memiliki resiko stroke dan kematian akibat stroke yang lebih tinggi. Pada penelitian di Yugoslavia terdapat hubungan antara konsumsi alkohol dengan insiden stroke perdarahan. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan dengan stroke sumbatan.

Berdasarkan data tersebut di atas maka beberapa hal yang penting Anda lakukan untuk mencegah stroke adalah:

  1. Kontrol hipertensi

Pengontrolan hipertensi sedang maupun berat akan mencegah stroke secara nyata. Pasien dengan hipertensi membutuhkan terapi untuk mempertahankan tekanan darahnya dalam batas normal. Pemberian obat antihipertensi pada pasien dengan peningkatan tekanan darah ringan akan memberikan hasil yang baik tetapi harus dipikirkan pula efek samping pengobatan yang harus dipikirkan untung ruginya terutama pada pasien dengan resiko untuk mendapat penyakit atherosklerotik yang rendah. Jadi perlu pula dilakukan penyeleksian pemberian obat antihipertensi. Pada pasien dengan resiko stroke, penting dilakukan perubahan pola hidup seperti penurunan berat badan, diet rendah garam ( juga dapat rendah kalori dan lemak ), berhenti merokok, melakukan aktivitas fisik sedang ( olahraga).

  1. Berhenti merokok!

Resiko terjadinya PJK ( penyakit jantung koroner ) menurun kurang lebih 50% dalam satu tahun setelah berhenti merokok dan setelah lima tahun, resiko terjadinya PJK pada orang yang pernah merokok dan telah berhenti selama 5 tahun adalah sama dengan resiko terjadinya PJK pada orang yang belum pernah merokok. Berhenti merokok juga akan diikuti dengan penurunan terjadinya stroke. Merokok pada pria meningkatkan resiko stroke 40% dan pada wanita 60%.

About the Author :

Leave a Comment

START TYPING AND PRESS ENTER TO SEARCH