Hubungan Seksual Pasca Stroke

Penulis: dr. Fritz Sumantri Usman SpS,FINS (Neurologist & Interventional Neurologist)

Semakin seringnya pasien di usia pertengahan (35 – 50 tahun) terkena stroke akhir akhir ini, hal tersebut menimbulkan banyak masalah yang timbul saat ia pulang dari rumah sakit , misalnya pekerjaan, aktivitas keseharian dan salah satu yang paling sering ditanyakan adalah aktivitas seksual.

Pertanyaan “kapan boleh melakukan hubungan suami istri dok?”, seringkali ditanyakan pada pasien ataupun pasangannya, suka atau tidak suka hal tersebut haruslah dijawab, apalagi kalau pasien / keluarganya berkata “Ya…kalau puasa 1-2 bulan oke lah dok , tapi masa saya ngga bisa kasih nafkah batin ke istri?”, atau “Masa saya harus self service”.

Gangguan fungsi seksual pasca stroke

Setelah stroke, kadang kala timbul gangguan pada beberapa organ tubuh, seperti kelumpuhan satu sisi, sensasi yang tumpul satu sisi, perasaan tidak berguna lagi (kondisi depresi) ataupun gangguan ereksi, gangguan bicara sehingga tidak dapat menyampaikan apa yang sebenarnya dimaksud.

Walaupun begitu, banyak data mengungkapkan, cukup jarang stroke yang benar-benar menyerang fungsi seksual. Masalah seksual yang timbul atau dikeluhkan yang ada adalah perasaan rendah diri atau perasaan takut untuk gagal dalam melakukan hubungan seksual, dan tentu saja perasaan takut bahwa aktivitas seksual akan memicu terjadinya stroke berulang, terutama pada pasien pasien yang memiliki faktor resiko darah tinggi ataupun adanya aneurisma di kepalanya yang belum dilakukan coil ataupun clipping.

Seringkali karena ketakutan ketakutan tersebut, maka seseorang menjadi tidak berani, tidak tega ataupun tidak mau untuk melakukan hubungan seksual, bahkan yang ringan sekalipun seperti merangsang pasangan masing masing hingga mencapai orgasme.

Dari mana gangguan seksual pasca stroke berasal?

Seperti dikatakan tadi, cukup jarang stroke yang dapat menyebabkan turunnya libido ataupun gangguan ereksi, terkecuali yang bila daerah otak yang kena adalah daerah hipotalamus. Selain itu, gangguan seksual yang timbul berasal dari kondisi psikis si penderita atau keluarganya hanya bersifat sementara. Banyak studi yang meneliti , bahwa pasien-pasien stroke yang mengalami penurunan libido pasca stroke akan kembali memiliki libido yang sehat setelah 3-6 bulan pasca serangan stroke.

Obat-obat yang diberikan , untuk menurunkan resiko terjadinya stroke berulang , seperti obat hipertensi golongan beta blocker dapat menyebabkan impotensi, sehingga berkomunikasi dengan dokter spesialis saraf yang merawat pasien dapat menghindari kemungkinan turunnya libido akibat obat-obat tersebut.

Apa yang harus dilakukan?

Komunikasi adalah fungsi utama dan kunci dari masalah ini, komunikasikan apa yang diharapkan dari pasangan, dan membuka diri serta pikiran bahwa aktivitas seksual yang dilakukan dengan pasangan sendiri adalah tidak tabu. Beberapa cara untuk merangsang pasangan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan (memberikan sentuhan erotis, melakukan masturbasi ke masing masing pasangan hingga seks oral). Beberapa alternatif ini dapat merupakan penyelesaian sederhana dan tahap awal sebelum pasien benar-benar pulih untuk melakukan hubungan seksual yang wajar.

Berkonsultasi dengan dokter saraf Anda mengenai obat-obatan yang diberikan. Bila memungkinkan untuk mengganti obat-obat yang dapat menurunkan libido.

Lakukan hubungan seksual dengan posisi yang tidak terlalu banyak menguras tenaga bagi pasangan yang sedang menderita stroke. Posisi misionaris yang selama ini merupakan harga mati dalam melakukan hubungan seksual, sebaiknya diganti dengan posisi woman on top bila si penderita seorang laki laki.

Bila menggunakan kateter sewaktu di rumah, condom catheter dapat dilepaskan untuk kemudian dipakai lagi saat aktivitas seksual telah selesai, sementara pada wanita yang menggunakan foley catheter, dapat menggeser selangnya ke atas atau ke samping untuk sementara waktu.

Bagaimana memulainya?

  1. Untuk pasien yang baru pulang ke rumah , setelah semua kondisi stabil ( kesadaran, tekanan darah, denyut nadi) dapat memulai aktivitas saling menyayangi seperti saling mencium, saling menyentuh, berpelukan , cerita-cerita nostalgia saat bertemu dahulu.
  2. Lakukan di ruangan yang tenang , ditambah alunan musik yang membangkitkan nostalgia dan romantisme. Seringkali kita melupakan hal hal kecil tersebut, namun percayalah semua hal kecil tersebut dapat membangkitkan romantisme, perasaan dihargai, harga diri dan keyakinan seseorang terhadap pasangannya.
  3. Bila ada faktor-faktor seperti depresi, kecemasan, dan nyeri, perlu diperhatikan bahwa ketiga hal tersebut memang dapat membuat seseorang kurang menikmati aktivitas romantis ataupun seksual dengan pasangannya. Namun kabar baiknya adalah ketiga hal diatas dapat diatasi dengan obat-obat tertentu , sehingga keluhan keluhan diatas seyogyanya tidak membuat dinding penghalang terhadap aktivitas seksual yang akan dilakukan.

Beberapa tips untuk menikmati aktivitas seksual pasca stroke :

  1. Komunikasikan apa yang ada dalam pikiran Anda dengan pasangan secara terbuka dan jujur, bila terjadi afasia pada salah satu pasangan, gunakan bahasa isyarat , agar terjadi saling pengertian.
  2. Jangan panik ataupun malu , ingatlah bahwa hubungan / aktivitas seksual dengan pasangan yang sah merupakan hak setiap orang.
  3. Sesuaikan aktivitas seksual yang akan dilakukan dengan kondisi tubuh saat ini. Kondisi lumpuh sesisi, baal sesisi, tidak dapat bicara atau libido yang menurun membutuhkan aktivitas ekstra untuk mencapai orgasme. Yang penting terbuka dengan semua wacana posisi aktivitas seksual dan keinginan untuk membahagiakan pasangan merupakan kunci kedua setelah komunikasi.
  4. Tetap menjaga kebersihan dan bentuk tubuh agar tetap menarik bagi pasangan dan diri sendiri, rambut yang pada saat sebelum stroke selalu ditata , maka tidak ada alasan untuk tidak menatanya setelah stroke. Bila penderita kesulitan untuk mencukur atau menata rambut tersebut, mintalah pasangan untuk melakukannya .
  5. Penggunaan obat-obat untuk mengatas disfungsi ereksi hanya diperbolehkan dengan pengawasan / sepengetahuan dokter Anda.
  6. Cari daerah-daerah tubuh lainnya yang memiliki sensitifitas seksual yang tinggi, jangan terpaku pada tempat yang itu itu saja.
  7. Lakukan hubungan seksual bila memang sudah siap dan sudah diperbolehkan oleh dokter.
  8. Pada saat melakukan hubungan seksual , lakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kekurangan yang masih timbul. Gunakan bantal, lumbrikasi, ataupun posisi hubungan yang dapat membuat si penderita pasca stroke tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan energi atau bekerja ekstra keras.
  9. Untuk mencapai orgasme, tidak harus melalui hubungan seksual , aktivitas semacam petting, masturbasi, seks oral bahkan penggunaan alat bantu seksual seperti vibrator dapat dilakukan untuk mencapai orgasme bagi individu penderita pasca stroke.
  10. Bagi penderita yang belum memiliki pasangan, jangan malu / sungkan untuk melakukan onani untuk menyalurkan hasrat seksualnya .

Bila masih ada ketakutan atau perlu bimbingan dan konsultasi dari dokter maka penderita pasca serangan storke bisa berkonsultasi kepada dokter ahli lainya selain spesialis saraf, seperti :

  • Dokter spesialis saluran kemih
  • Dokter spesialis kandungan dan kebidanan
  • Dokter yang mempelajari seksologi secara mendalam
  • Psikiater atau psikolog yang paham untuk hal hal seperti ini.

Demikianlah sedikit uraian tentang aktivitas / hubungan seksual pasca stroke , semoga dapat diambil makna yang ingin disampaikan oleh penulis.

About the Author :

Leave a Comment

START TYPING AND PRESS ENTER TO SEARCH